Membaca Bilangan Fu, Membaca Spiritualisme yang Menggugat - Nesatopia

Recommended Posts

Membaca Bilangan Fu, Membaca Spiritualisme yang Menggugat

goodreads
Judul                  : Bilangan Fu
Pengarang          : Ayu Utami
Cetakan              : 1, 2008
Penerbit              : KPG

Membaca Bilangan Fu adalah membaca Ayu Utami, seseorang dengan sekelumit tanda tanya yang misterius. Dalam dunia teka-teki itu, kita akan disuguhi berbagai hal dari bermacam sudut—pojok-pojok pikiran yang barangkali tak pernah kita sentuh. Kita akan diajak menyelami samudra Ayu Utami, samudra spiritualisme kritis—suatu istilah yang ia ciptakan sendiri.
Dalam novel yang ia tulis selama empat tahun ini, kita dihadapkan dua hal berbeda—sesuatu yang kemudian memunculkan dialektika-dialektika sepanjang cerita. Ayu Utami menghadirkan perbedaan itu lewat dua tokoh utama: Yuda dan Parang Jati. Yuda adalah mahasiswa Geologi dan pemanjat tebing. Ia skeptis, modern, rasional, dan tak percaya takhayul. Sementara itu, Parang Jati adalah antitesis (sebagian karakter) Yuda; ia percaya hal-hal gaib dan takhayul meski tak kalah kritis. Sebagai contoh, ia yakin titik-titik di alam semesta ini disemayami penunggu. Ia menghormati mereka.
Dari dua keyakinan yang saling bertolak belakang itu, perdebatan kemudian terjadi—Ayu menuliskannya lewat dialog-dialog panjang, bahkan menyertakan kliping tulisannya di koran, yang kadang saya rasa agak dipaksakan. Modernitas, yang diwakili oleh Yuda, menganggap bahwa ritual-ritual atau keyakinan gaib yang dianut masyarakat tertentu tak lebih dari produk lama. Ia tua, tidak masuk akal, dan patut ditinggalkan. Dalam keyakinan agama-agama samawi, kepercayaan itu bahkan haram dan merupakan upaya penyekutuan Tuhan.
Sebaliknya, Parang Jati membawa spirit berbeda; ia adalah representasi dari tradisionalitas yang berada di barisan kepercayaan-kepercayaan “lama”. Bagi Jati, berbagai upacara adat seperti pemberian sesajen untuk (penjaga) alam adalah hal yang masuk akal dan penting. Ia—dan mereka yang melakukan—sesungguhnya tidak menyembah, melainkan hanya melakukan tindakan penghargaan, suatu bentuk hormat dan syukur atas alam sekitar. Bagi Jati, sesajen tak lebih dari bea cukai atau upeti.
Napas inilah yang saya rasa begitu kuat dalam Bilangan Fu, napas kritik terhadap modernitas dan monoteisme. Meski novel ini terdiri dari tiga bab utama, yakni Modernisme, Monoteisme, dan Militerisme, dua topik pertamalah yang paling membara dan membuat gejolak.

kajianpustaka.com
Bilangan Fu mewakili suara kepercayaan-kepercayaan yang belakangan ini, selalu dipandang buruk. Ayu Utami memberikannya ruang, suatu ruang yang menggugat. Dalam perdebatan-perdebatan yang terjadi, kita akan diajak berpikir bahwa sebetulnya, berbagai upacara-upacara adat memiliki makna.
Sebagai contoh, sesajen yang sering ditaruh di punden, hutan, atau laut, sesungguhnya merupakan bentuk penghormatan sekaligus rasa syukur. Kepercayaan bahwa alam disemayami penghuni selain manusia, juga mengantarkan pada kondisi di mana manusia hati-hati dan berkomitmen untuk menjaga—karena saat mereka lalai atau melakukan hal-hal yang merusak, kesialan akan menimpa.
Bagi saya, ini adalah marwah kebudayaan tradisional yang sekaligus jadi kritik terhadap modernitas. Kepercayaan tradisional memiliki nilai luhur; bahwa manusia (harus) dekat dan menghargai alam. Bagaimanapun, ketika alam rusak, kitalah yang akan menanggung dan terkena dampak.
Kepercayaan ini, kenyataannya efektif untuk menjaga alam. Masyarakat yang masih memegangnya erat terbukti adalah sahabat alam. Maka bandingkan dengan orang-orang modern. Mereka rakus, memanfaatkan segala hal untuk apa yang mereka sebut sebagai kebutuhan. Manusia modern memandang alam tak lebih dari sekadar objek pemuas. Akibatnya, alam rusak—kita telah mengalaminya sekarang. Jika sudah begini, siapa yang pijakan kakinya lebih mundur dari yang lain?
Bilangan Fu kemudian menghadirkan kritik keras pada monoteisme yang menolak tafsir yang berbeda. Monoteisme begitu hitam-putih dalam memandang perbedaan, begitu kaku, dan menganggap kepercayaan lain salah—kata yang diperhalus untuk “sesat”. Kita tentu masih ingat bahwa salah satu kepercayaan (di) nusantara tidak diakui. Sunda Wiwitan, sebuah agama yang telah lama menetap di tanah ini, tidak mendapatkan pengakuan. Banyak penganutnya yang kemudian terpaksa menulis agama lain di kartu penduduknya.
Kita kemudian dibuat berpikir: beginikah cara beragama masyarakat Indonesia yang beragam? Benarkah ini yang diinginkan Sang Pencipta?
tipspengembangandiri.com
Tren seperti inilah yang belakangan ini kian menjamur. Sebagian dari kita semakin sering menyesatkan liyan, memandangnya dalam suatu identitas yang tak berharga. Sebagai minoritas, orang-orang dengan kepercayaan-kepercayaan itu seolah tak diberi hak bersuara—kalaupun ada, suara itu sedikit dan tak didengar. Ayu melihat ini, dan di novel inilah mereka beroleh tempat.
Membaca Bilangan Fu benar-benar membuat otak saya bekerja keras karena harus senantiasa berpikir. Selain soal topik, di dalamnya banyak kosakata yang tak saya mengerti. Saya harus bolak-balik buka KBBI untuk memahaminya. Tetapi pekerjaan ini begitu menyenangkan. Bagi saya itulah salah satu tugas penulis: menyosialisaikan bahasa. Kita dibuat sadar, bahwa bahasa Indonesia begitu kaya dan beragam, seolah menunjukkan bahwa kita memang ditakdirkan hidup dalam kerangka kemajemukan.
Selain perbendaharaan kata yang kaya, Ayu Utami juga berhasil membuat novel ini mengalir lewat cerita tidak biasa yang penuh sejarah kuno dengan cara ditulis dalam kalimat-kalimat singkat. Metode ini efektif agar pembaca tidak terlalu terbebani dengan struktur kalimat; kita bisa fokus pada alur dan topik yang disajikan. Ayu benar-benar paham, dan ia layak kita sebut sebagai pendongeng sejati!
Oh ya, lalu apa bilangan Fu itu? Di dalam cerita, disebutkan bahwa bilangan ini angka ke tigabelas dalam aksara Jawa Kuno. Fu atau Hu. Bagi sebagian orang, angka ini angka kesialan. Namun bagi saya tidak. Meski saya masih bingung tentang definisinya, kini saya memberanikan diri mengambil suatu kesimpulan kecil: Bilangan Fu, sebagaimana yang membuat Yuda penasaran setelah mendapatkan mimpi tentangnya, adalah sekelumit tanda tanya yang membawa kita melakukan perjalanan mencari hakikat—kita harus selalu melangkah ke sana. {}

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Membaca Bilangan Fu, Membaca Spiritualisme yang Menggugat"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel